Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 54

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 54by adminon.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 54Pendekar Naga Mas – Part 54 Keesokan harinya Cau-ji menyamar menjadi seorang lelaki berbaju hijau, diantar oleh kawanan gadis cantik itu, berangkatlah dia menuju ke rumah makan Jit-seng-ciu-kau. Sepanjang perjalanan, secara diam-diam ia mencoba mengawasi situasi sekelilingnya, benar saja, ia jumpai kawanan jago dari kalangan hitam sedang berbincang masalah dukungan mereka terhadap Jit-seng-kau, hal ini […]

multixnxx-Women with Big Labia -6 multixnxx-Women with Big Labia -7 multixnxx-Women with Big Labia -8Pendekar Naga Mas – Part 54

Keesokan harinya Cau-ji menyamar menjadi seorang lelaki berbaju hijau, diantar oleh kawanan gadis cantik itu, berangkatlah dia menuju ke rumah makan Jit-seng-ciu-kau.

Sepanjang perjalanan, secara diam-diam ia mencoba mengawasi situasi sekelilingnya, benar saja, ia jumpai kawanan jago dari kalangan hitam sedang berbincang masalah dukungan mereka terhadap Jit-seng-kau, hal ini membuat pemuda itu semakin bertekad ingin menawan pentolannya lebih dulu sebelum membasmi kawanan bandit, dia bertekad akan melenyapkan Su Kiau-kiau dari muka bumi.

Oleh karena itu pada hari kelima dia pun menyaru kembali menjadi Hek Hau-wan dan mulai melanjutkan perjalanan.
Hari ini menjelang siang, tibalah dia seorang diri di rumah makan Ui-hok-lau.
Dia jadi teringat pengalamannya beberapa hari berselang, gara-gara gelak tertawanya yang nyaring akibatnya memancing kedatangan orang-orang Jit-seng-kau serta jagoan lainnya hingga terjadi pertempuran sengit melawan Lokyang Cap-ji Eng.

Kini noda darah yang membekas di permukaan tanah belum lenyap, beberapa bagian tempat yang rusak akibat pertempuran pun belum diperbaiki, Cau-ji jadi teringat kembali akan betapa sengitnya pertempuran yang terjadi saat itu.

Tanpa terasa dia pun berdiri terkesima di tempat. Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar seseorang membentak nyaring, “Hey, setan tua, mengganggu perjalanan orang saja, cepat menggelinding ke samping!”

Begitu tersadar dari lamunan dan mendengar perkataan lawan yang begitu tak sopan, berkobar hawa amarah Cau-ji.
Perlahan-lahan dia membalikkan badan, lalu menegur dengan suara berat, “Anjing busuk dari mana yang sedang menggonggong di sini?”

Terlihat ada tiga lelaki berbaju hitam yang berwajah bengis dan berusia empat puluh tahunan berdiri lebih kurang beberapa tombak di hadapannya. Salah seorang lelaki di tengah yang mendengar jawaban yang begitu tak sopan itu langsung meraung gusar dan menerjang maju.

Belum lagi tubuhnya tiba, angin pukulan berhawa dingin telah menyambar tiba lebih dulu, sadar musuhnya berilmu tinggi, Cau-ji malah tertawa dingin, dia balas mengayunkan tangan kanannya membabat tubuh orang itu.

Ketika lelaki itu melihat pihak lawan ternyata berani melancarkan serangan balasan, maka tenaga pukulannya segera ditambah lagi sepuluh persen.

“Blam …!”, lelaki itu datang begitu cepat tapi pergi pun sangat cepat, tahu-tahu badannya sudah mencelat sejauh tiga tombak lebih, begitu jatuh ke tanah tampak dia menggeliat beberapa saat, setelah itu merenggang nyawa.

Inipun dia lakukan karena tak ingin membocorkan identitasnya sehingga tenaga pukulan yang digunakan hanya lima bagian, kalau tidak, niscaya tubuhnya bakal remuk berantakan.

Dua lelaki yang lain jadi amat terkesiap sesudah menyaksikan kehebatan tenaga dalam musuhnya, tanpa sadar mereka mundur satu langkah.

Cau-ji tak ingin mencari masalah, karena itu setelah tertawa seram dia pun bersiap meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba terdengar lelaki yang di sebelah kiri membentak nyaring, “Setan tua, besar amat nyalimu, setelah melukai anggota Jit-seng-kau, kau ingin kabur begitu saja?”

Cau-ji memang sedang risau karena tak berhasil menemukan anggota Jit-seng-kau, dia jadi kegirangan setelah mendengar ucapan itu, sahutnya sambil tertawa seram, “Hehehe, bagus, bagus sekali! Jadi kalian tidak mengenali Lohu?”
“Siapa yang kenal setan tua macam kau?” hardik lelaki yang ada di sebelah kanan.
“Kurang-ajar, kalian berasal dari ruang apa?” bentak Cau-ji dengan suara menyeramkan.

Begitu mendengar teguran itu, kedua lelaki tadi segera sadar kalau gelagat tidak beres, buru-buru sahutnya dengan nada yang lebih lunak, “Pek-hou-tong!”

Begitu tahu kedua orang ini ternyata merupakan anak buah Hek Hau-wan yang digunakan identitasnya sekarang, Cau-ji merasa teramat bangga, tegurnya lagi sambil tertawa seram, “Tahukah kau siapa Lohu?”
“Harap Cianpwe maafkan Wanpwe yang punya mata tak berbiji buru-buru kata orang di sebelah kanan agak gemetar.
“Hehehe, kau panggil Lohu sebagai Cianpwe? Cepat panggil kepala regumu, suruh dia menghadap Lohu!”

Tergopoh-gopoh orang itu mengiakan dan segera berlalu dari sana.

Sepeminuman teh kemudian terlihat seorang kakek berbaju hitam berusia enam puluh tahunan yang bertubuh tegap, dengan membawa dua puluhan lelaki kekar berbaju hitam menyusul datang dengan langkah cepat.

Pada jarak belasan tombak, orang itu segera mengenali Cau-ji, tampak dia menghentikan langkah, menjatuhkan diri berlutut dan teriaknya lantang, “Hamba Che Toa-jong menjumpai Tongcu, harap maafkan hamba yang telah terlambat datang menyambut!”

Lelaki berbaju hitam yang berdiri di hadapan Cau-ji nyaris jatuh semaput begitu tahu orang itu adalah atasannya, cepat dia menyembah ke tanah sambil berseru minta ampun.

Cau-ji tertawa seram, tanpa bicara sepatah kata pun dia membalikkan badan memandang ke arah rumah makan Ui-hok-lau.

Para pelancong di atas rumah makan yang menyaksikan kejadian ini jadi ketakutan, buru-buru mereka menyembunyikan diri.

Sementara Cau-ji masih mengeluh karena kegarangan pengaruh Jit-seng-kau, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar dua kali jeritan ngeri yang menyayat hati, menyusul kemudian terdengar Che Toa-jong berkata dengan penuh rasa takut, “Tongcu, maafkan hamba yang tak becus mendidik anak buahku!”

Menunggu Cau-ji membalikkan badan lagi, tampak kedua orang itu sudah terkapar bersimbah darah di atas tanah, maka kepada kedua puluh orang yang masih berlutut di tanah, serunya, “Kalian bangun semua, kita bicarakan lagi setelah pulang nanti!”
“Terima kasih Tongcu!”

0oo0

Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Cau-ji yang mendapat tahu dari mulut Che Toa-jong kalau Su Kiau-kiau sedang dalam perjalanan menuju ke rumah makan Jit-seng-ciu-lau, sehingga dia pun langsung menuju ke arah Tiang-sah.

Dalam pada itu menjelang pagi hari di bawah bukit Lian-hong-san tiba-tiba muncul empat puluh satu orang, mereka mengenakan jubah panjang berwarna kuning emas dan menunggang kuda jempolan.

Setiap kuda yang ditumpangi tampak mengeluarkan asap putih dari mulutnya dengan bulu basah kuyup, hal ini membuktikan rombongan itu baru saja menempuh perjalanan jauh.

Setelah terdengar ringkikan kuda yang memanjang, tiba-tiba keempat puluh satu orang itu menghentikan perjalanannya.
Terdengar seorang berkata dengan suara nyaring, “Leng tua, jalan perbukitan di depan sana amat sulit untuk ditempuh dengan menunggang kuda, lebih baik kita lanjutkan pendakian dengan berjalan kaki!”
“Baik!”

Setelah semua orang melompat turun dari kuda, terlihat ada tiga lelaki kekar berusia empat puluh tahunan yang tetap tinggal di tempat untuk mengurus kawanan kuda itu, sementara ketiga puluh delapan orang lainnya segera melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi.

Tiga orang yang berada paling depan tak lain adalah Cu bersaudara yang mengenakan jubbah kuning dan berdandan anggun, sejak meninggalkan Liong-ing-hong, mereka langsung kembali ke kota raja.

Setelah pulang ke istana, Cu Bi-ih bertiga langsung mohon menghadap ibu suri dan menceritakan kisah yang mereka alami serta membeberkan semua kejahatan yang telah dilakukan orang-orang Jit-seng-kau.

Tong-kiong Nio-nio yang mendapat laporan itu jadi gusar, ia menerima usulan dari ketiga gadis itu dan mengirim laporan kepada Baginda raja.
Dari laporan para menterinya, Baginda raja sudah mengetahui tentang lotere Tay-ke-lok yang menyengsarakan rakyat banyak, maka setelah menerima tambahan laporan dari putri kesayangannya, raja pun tahu kalau Jit-seng-kau tidak dilenyapkan maka undian lotere Tay-ke-lok tak bakal bisa ditumpas.

Namun Sri Baginda merasa kesulitan untuk mengambil keputusan ketika putri kesayangannya mengusulkan untuk menganugerahkan gelar An-lok-ong kepada Ong Sam-kongcu, karena masalah ini sudah menyangkut tata-cara protokol kerajaan.

Tong-kiong Nio-nio cukup memahami kesulitan Sri Baginda, maka dia pun mengusulkan untuk menanyakan pendapat kedua perdana menteri serta panglima perang.

Begitu Sri Baginda memberikan persetujuannya, maka tak sampai setengah jam kemudian sudah ada enam menteri kerajaan yang datang menghadap.
Secara ringkas Cu Bi-ih pun menceritakan kembali semua kejadian yang dialaminya, sekalian menerangkan pula posisi Ong Sam-kongcu serta kakeknya yang pernah memimpin umat persilatan membasmi kekejian perkumpulan Jit-seng-kau.

Terdengar Yu Siang-kong berkata, “Lapor Baginda, hamba pernah bertemu muka satu kali dengan Ong Sam-kongcu dari kota Kim-leng, orang ini memang setia pada negara dan melindungi kepentingan rakyat banyak.
“Waktu itu hamba berniat mengajaknya berbakti kepada kerajaan, sayang dia hambar terhadap nama dan kedudukan, bahkan menyatakan rela hidup mengasingkan diri di tempat terpencil.
“Kalau memang sembilan partai besar berniat mengangkat Ong Sam-kongcu sebagai pemimpin mereka, apabila Baginda menganugerahkan gelar An-lok-ong kepadanya, mungkin hal ini akan semakin membantu orang persilatan untuk mendukungnya!”
Kelima pembesar lain pun menyatakan persetujuannya.
Mendengar pendapat para pembantunya, kaisar pun segera menurunkan titah untuk memenuhi permintaan itu.

Maka keesokan harinya tiga bersaudara keluarga Cu dengan membawa Thian-te-sian-lu dan tiga puluh enam jagoan berilmu tinggi berangkat menuju ke Liong-ing-hong.
Kemudian setelah melalui perundingan yang matang, mereka putuskan minta pihak biara Siau Lim yang tampil mengumpulkan seluruh kekuatan partai besar untuk berkumpul di Tiang-sah, bersamaan waktu mereka pun menantang pihak Jit-seng-kau untuk berduel di Gak-lek-san di luar kota Tiang-sah sebulan kemudian.

Tanpa membuang waktu, keempat puluh satu orang itupun melakukan perjalanan siang malam tanpa berhenti, langsung menuju gunung Lian-hong-san.

0oo0

Sementara itu, Cu Bi-ih sekalian melakukan perjalanan tiada hentinya, setelah berlarian hampir setengah jam lamanya, tibalah mereka di depan perkampungan Hay-thian-it-si.
Dari kejauhan tiba-tiba mereka mendengar suara auman binatang buas yang menyeramkan, tanpa sadar rombongan pun memperlambat larinya.

Ketika tiba di tembok luar perkampungan Hay-thian-it-si, terlihat ada dua puluhan muda-mudi sedang bermain dengan aneka binatang buas seperti singa, harimau, beruang, macan tutul, gorila, monyet, kijang ….

Pemandangan semacam ini kontan membuat semua orang tertegun.
Yang membuat mereka tertegun adalah di antara jenis binatang buas yang berada di sana, ada sementara hewan yang bermusuhan turun-temurun, tapi kini justru bermain dengan muda-mudi itu tanpa ada sikap bermusuhan, selain jinak juga sangat menarik, betul-betul satu kejadian yang aneh.

Ketika memperhatikan kawanan muda-mudi itu, terlihat bukan saja mereka berwajah bersih, bahkan lincah, cekatan, dan jelas memiliki ilmu silat tangguh.
Ketika menengok lagi ke arah lain, maka terlihatlah seorang sastrawan berwajah tampan yang mengenakan baju putih sedang berbincang dengan tiga belas wanita cantik.

Saat itulah seorang lelaki kekar berusia empat puluh tahunan berjalan mendekat sambil berbisik, “Lapor Kongcu, sastrawan berbaju putih itu tak lain adalah Ong Sam-kongcu Ong It-huan dari kota Kim-leng!”

“Ehm, seorang lelaki tampan yang luar biasa,” Cu Bi-ih segera tersenyum sambil manggut-manggut.
Tiba-tiba dari dalam ruangan gedung terdengar seseorang berkata sambil tertawa nyaring, “Sobat-sobat kecil, sudah puas kalian bermain?”

Kemudian terlihatlah si Raja hewan Oh It-siau muncul dengan wajah berseri.
Bwe Bu-jin (kini Ong Bu-jin telah berganti memakai nama marga ayahnya) ikut muncul pula dengan wajah tersenyum.

Sepeninggal kawanan hewan itu digiring pergi oleh raja hewan, terlihat Ong Sam-kongcu bangkit berdiri secara tiba-tiba dan berkata dengan suara nyaring, “Ah, gara-gara menyaksikan putra-putriku bermain dengan hewan mengakibatkan tamu jauh harus menunggu lama, sungguh hal ini membuat Ong It-huan merasa sungkan. Lo-ong, cepat sambut kedatangan tamu-tamu kita!”

Habis berkata dia pun memimpin semua orang untuk menyambut di depan pintu gerbang.
Leng Bang segera tampil ke depan dan menyahut sambil tertawa tergelak, “Sudah lama kami dengar Ong Sam-kongcu adalah seorang yang Bun-bu-siang-cuan (menguasai ilmu silat maupun ilmu sastra), setelah berjumpa hari ini, terbukti nama besarmu memang bukan nama kosong, hahaha

Selesai berkata, bersama Chin Tong dan semua jago bergerak mendekati pintu gerbang.
Waktu itu si Raja hewan telah menghimpun tenaga dalamnya siap melakukan pertempuran, tapi sewaktu pandangan matanya melintas di wajah Thian-te-sian-lu, mendadak jeritnya tertahan, “Lo-sinsian (dewa tua)!”

Selesai bicara, dia pun menjatuhkan diri berlutut.
Sambil tertawa terbahak-bahak Leng Bang maju sambil membangunkannya, serunya, “Oh kecil, jangan banyak adat!”
Raja hewan Oh It-siau sama sekali tak menyangka setelah berpisah puluhan tahun, akhirnya pada hari ini dia dapat bersua kembali dengan tuan penolong yang pernah menyelamatkan jiwanya di masa lalu, tak heran saking terharunya dia segera berlutut.

Seusai berdiri, dengan hormat Raja hewan bertanya, “Lo-sinsian, ada kepentingan apa kalian berkunjung kemari?”

Leng Bang tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, sudah cukup lama Lohu mendengar tempat tinggal Ong Sam-kongcu indah dan megah bagaikan nirwana, ternyata apa yang dikatakan orang memang tidak salah, hahaha

Dalam pada itu Ong Sam-kongcu pun telah mengenali Thian-te-sian-lu, cepat katanya dengan hormat, “Sungguh suatu kebanggaan bagiku dapat bersua dengan Sin-heng serta teman-teman
sekalian, silakan masuk ke dalam dan minum teh!”
“Kongcu, terima firman kaisar!” mendadak Leng Bang berkata dengan nada serius.
“Firman? Firman apa?” tanya Ong Sam-kongcu tercengang.
“Tentu saja firman dari Sri Baginda!”

Ong Sam-kongcu segera berpaling dan memberi tanda kepada semua penghuni perkampungan Hay-thian-it-si, serentak semua orang menjatuhkan diri berlutut.

Author: 

Related Posts