Cerita Sex Gratifikasi Donat

Cerita Sex Gratifikasi Donatby adminon.Cerita Sex Gratifikasi DonatGratifikasi Donat GRATIFIKASI DONAT BAB 1 ; DONAT KENTANG Perbaiki frekuensinya Sheila, kita belum bisa mendapatkan jaringannya!!. Laki-laki kurus berompi kulit warna cokelat duduk serius di mobilnya. Suasana malam di parkiran sebuah hotel berbintang semakin menambah kewaspadannya. Pada deret kursi belakang mobilnya tiga orang pria tampak tak kalah serius memperhatikan gerak-gerik setiap pengunjung. Sheila, satu-satunya […]

multixnxx-BFFs Marsha May and Alex Little are walkin-6 multixnxx-BFFs Marsha May and Alex Little are walkin-7 multixnxx-BFFs Marsha May and Alex Little are walkin-8Gratifikasi Donat

GRATIFIKASI DONAT

BAB 1 ; DONAT KENTANG

Perbaiki frekuensinya Sheila, kita belum bisa mendapatkan jaringannya!!.

Laki-laki kurus berompi kulit warna cokelat duduk serius di mobilnya. Suasana malam di parkiran sebuah hotel berbintang semakin menambah kewaspadannya. Pada deret kursi belakang mobilnya tiga orang pria tampak tak kalah serius memperhatikan gerak-gerik setiap pengunjung.

Sheila, satu-satunya personil wanita dalam mobil, tengah sibuk mengutak-atik sebuah alat komunikasi. Usianya masih pertangahan dua puluhan tahun, tapi telah memiliki segudang prestasi. Idealismenya sebagai seorang manusia tengah begitu tinggi, sehingga membuatnya memilih untuk berprofesi seperti yang dia lakoni saat ini.

Yak, dapat Pak Ramlan!, ujarnya pada bapak laki-laki kurus.

Bagus tepat waktu!!! itu mobilnya telah tiba!!. Sheila beserta rekannya serempak mengarahkan pandangannya ke arah mobil dari yang baru saja sampai di parkiran. Dua orang pria mengapit seorang wanita berpenampilan menarik bergegas turun dari mobil bergerak masuk menuju lobi hotel.

Kita ikuti Pak??, tanya Sheila.

Pria kurus menggeleng-gelengkan kepalanya. Tahan sebentar Sheila!, dia menggoyang-goyangkan jari telunjuk, Sampai ikan memakan umpan, kita baru masuk!! Semua kenakan ear phone!! dengarkan baik-baik apa yang mereka bicarakan dari radio!. Pria kurus membalik badannya menatap seorang dari tiga pria yang duduk di jok belakang, hubungi Dion!.

***

Hmm hmm hmmm, suara gumaman bernada merdu keluar dari bibir pria paruh baya di kamar hotel nomer 415. Dipandanginya lekat-lekat wajahnya di cermin, Masih ganteng kamu Samir, ujarnya pada dirinya sendiri. Sisir hotel yang tersedia di dekat cermin kamar mandi diambilnya kemudian dibawanya ke atas kepala untuk menata rambutnya.

Dia akan kedatangan tamu malam ini. Bukan tamu sembarangan, tapi spesial karena tamu itu akan memuaskan segala fantasi terliar dalam dirinya. Sebagai pria berusia kepala empat, dia masih sangat bugar. Kesibukannya sebagai pria dengan banyak proyek beromset miliyaran, tidak melalaikannya dari menjaga aset kesehatan tubuhnya.

Cklek, sisir telah melaksanakan tugasnya dengan baik kemudian diletakkannya kembali ke tempat semula. Tak jauh dari sana diambilnya sebuah botol obat kecil bertuliskan kata-kata dalam bahasa asing. Obat ini diberikan oleh mitra bisnisku waktu kami kunjungan ke luar negeri, he he he wanita jaman sekarang hanya bisa dipuaskan dengan menggenjotnya berjam-jam tanpa henti, diambinya dua butir pil kemudian ditengaknya perlahan.

Kriinngg.krrriiinngggg, nada dering handphone berbunyi. Samir malangkah menghampiri televisi tempat poselnya sedang di charge.

Samir.

Bos, barang sudah datang.

Bawa naik!.

Kamar berapa Bos??.

415.

Ok Bos.

Sebentar…

Ya Bos??.

Paketnya apa aja??.

Paket kering sama paket basah Bos .

Naik!!.

Samir mengelus bongkahan daging di balik celananya. Denyutan aliran darah terasa mengalir begitu deras di kaki menuju pahanya.

Manjur nih obat!!.

***

Ayo Neng kita naik ke lantai empat, itu liftnya, pria berkumis lebat dengan tubuh tinggi tegap itu berkata pada Miranti.

Sebenarnya ia merasa ngeri harus berjalan dengan dua laki-laki pengiringnya dengan tampang sangar, tapi dia tidak punya pilihan. Sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta, Miranti memerlukan prestis. Kawan-kawannya kebanyakan berasal dari keluarga kaya raya. Mereka memeliki semua kekayaan yang diperlukan agar dapat diterima dalam sebuah lingkaran pergaulan. Mobil mewah, ponsel mahal terbaru, anggaran buat liburan ke luar negeri, dan lain sebagainya mereka miliki. Lantas bagaimana dengan Miranti yang berasal dari keluarga kelas menengah??, bila tidak cerdik mencari uang dia tidak akan diterima dalam lingkaran pergaulan mereka.

Aku masih wanita normal yang perlu bersenang-senang. Hidup Cuma sekali, kenapa tidak kita manfaatkan untuk memuaskan segala hasrat dan keinginan, mumpung masih muda, itulah kata hati Miranti ketika menunggu lift terbuka di lobby.

Sebagai wanita dia dikarunia tubuh nan indah. Rambut aslinya berwarna hitam lebat dan terurai hingga menyentuh punggungnya. Matanya indah, ditambah sebuah hidung mancung yang semakin memperelok keindahan wajahnya. Bibirnya adalah kelebihan. Seorang wanita pasti memiliki aset yang membuatnya sebagai objek seksual. Untuk Miranti itu adalah bibirnya. Bibir itu begitu sensual dan membangkitkan birahi setiap lawan jenis yang memandangnya.

Kulit tubuhnya sawo matang. Kadang dia merasa minder dengan warna kulitnya. Sudah beratus-ratus kosmetik dia coba untuk merubah warnanya sehingga menjadi berwarna putih seperti yang diidam-idamkannya, namun semuanya gagal. Bintik-bintik merah malahan menghujani wajahnya akibat efek samping dari gonta-ganti kosmetik. Setelah dia tobat serta belajar menerima warna asli tubuhnya rejeki justru menghampirinya.

Sebenarnya Miranti tidak ingin berkecimpung di dunia pelendiran milik para wanita-wanita nakal. Namun kebutuhan kehidupan memaksanya untuk melakukan apa yang dijalankannya malam ini. Sebagai wanita kampus dia hidup bebas dan telah melakukan sex bebas. Ketika dia belajar menerima warna kulit tubuhnya, kecantikannya justru semakin memancar. Apalagi ditambah tipe tubuhnya yang semok dan menggairahkan, hanya butuh waktu singkat sebelum sebuah tawaran datang menghampirinya. Tawaran itu datang bukan dari orang jauh, namun dari teman dekatnya sendiri yang menawarkan sebuah peluang emas kepadanya ; puluhan juta rupiah akan mengalir di tangan hanya dalam waktu beberapa jam saja, dengan syarat bersedia menemani seorang klien.

Ketika tawaran itu datang. Miranti yang sebelumnya hanya pernah tidur dengan pacarnya seorang, tanpa ragu-ragu menjawab ; Ya, saya bersedia. Kebutuhan untuk eksis dalam pergaulan mendorongnya bersedia mengambil keputusan seberani itu.

Ting, pintu lift terbuka. Kedua pria itu, yang satunya menggenggam sebuah koper kecil, manuntun Miranti masuk.

Huuff semoga lancar, harapan Miranti membumbung tinggi seiring naiknya elevator.

***

Tek..tekk..tekk, bunyi keyboard ditekan cepat.

Seorang wartawan muda tengah duduk di lantai sebuah gedung megah. Deadline dari redaktur membuatnya melupakan waktu serta kelelahan di tubuhnya. Sudah tiga hari dia hanya tidur satu jam. Resiko pekerjaan katanya. Untunglah dia masih bujangan. Belum ada sosok istri yang menjadi momok menyuruhnya pulang ke rumah.

Belakangan berita memburu wartawan. Pria muda tertawa sendiri memikirkan hal tersebut, beberapa tahun lalu, seorang wartawan dituntut memburu nara sumber. Sekarang nara sumber dengan berbagai latar belakanglah yang memburu waratawan. Bahkan rela membayar berapapun agar kisahnya diberitakan.

Baru satu jam lalu seorang pengacara artis kondang memanggilnya untuk menaikkan berita perihal gugatan cerainya pada sang istri. Pengacara terkenal tersebut tanpa basa-basi menodongnya dengan satu amplop tebal berisi uang dan memintanya mempublish berita sesuai dengan yang didiktekannya.

Rangkaian kalimat dari pengacara kondang tersebutlah yang kini sedang diketik sehingga dapat segera tayang pada berita on line malam ini juga.

Cari uang buat wartawan di jaman sekarang mudah, batin si wartawan, hanya tinggal persoalan jam tayang aja, lanjutnya sambil tersenyum dan meneruskan mengetik.

Brreeettbreeett, ponselnya bergetar keras.

Halo .

Dion?.

Betul.

Ini Zul.

Wah lama gak menghubungi Bos Zul, kemana aja nih?? ganti nomer ya??.

Dimana kamu sekarang.

Ada! lagi nongkrong di pelataran gedung XXX nih.

Berapa lama kamu bisa nyampe ke hotel XXX.

Hmm setengah jaman lah Bos, ada kasus lagi nih??.
Ada.

Siap Meluncur Bos.

Tutt..tuutt..tuutt, sambungan diputus.

Dari semua orang di dunia, hanya kepada orang bernama Zul tadi, Dion akan tunduk. Panggilannya sama dengan pundi-pundi uang. Kalo dia memanggil hampir dipastikan kantor besar akan sumringah. Segera dikemasi laptopnya ke dalam tas jinjing. Tak lupa dicek kesiapan video recorder yang setia mendampinginya tiga tahun belakangan.

Ikan apa lagi yang berhasil mereka tangkap sekarang??.

***

Kamar nomer 415 Pak Ramlan, Sheila mengulang percakapan yang telah mereka sama-sama dengar. Digigitnya satu potong donat yang dibeli di pinggir jalan untuk mengusir lapar. Sebagai penggemar berat donat, Sheila harus membawanya sebagai bekal untuk menamani malam-malam panjang yang biasa dilalui.

Mau Donat Pak??.

Si pria kurus menggeleng datar tanpa ekspresi sebagai jawaban penolakan. Dipegangnya handphone bututnya untuk mencari sebuah nomer orang penting.

Zul, gimana Dion??.

Setengah jam lagi tiba Komandan.

Dia mendekatkan telpon genggamnya ke telinga bersiap menghubungi seseorang.

Mereka positif bertransaksi di hotel Pak, Ramlan berkata di telpon.

Jawaban datang dari lawan bicaranya. Serius, Ramlan mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan respon di ponsel.

Yakin sekali Pak, bagaimana selanjutnya??.

Didengarnya baik-baik arahan yang diberikan.

Baiklah!!.

Dia menutup telpon selulernya. Mengalihkan matanya ke arah Sheila.

Zul panggil regu dua agar bersiap naik!!, regu tiga agar menyiapkan penyergapan di lantai satu! .

***

Tok..took, pintu kamar diketuk.

Ckleekk, Samir membukakan pintunya. Kini ia hanya mengenakan kimono hotel.

kenapa aku harus repot-repot mengenakan baju banyak-banyak bila nanti harus dilepas lagi, batinnya.

Malam Bos!.

Tidak dihiraukannya kedua pria pengantar. Matanya hanya menatap lekat ke arah wanita yang berdiri di tengah. Dengan kedua matanya diperiksa betul-betul figure wanita ini dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambutnya indah. Wajahnya cantik. Tubuhnya sexy dengan sepasang payudara yang seperti hendak meloncat dari dadanya akibat dia mengenakan pakaian ketat.

Bagus! sesuai pesanan mereka mendandaninya dengan baik!, dalam hati senyum mesum tersungging dari bibir Samir. Dipegangnya tangan si wanita dengan lembut, kemudian dituntun memasuki kamar.

Cantik, Masuklah ke kamar Om!, perintahnya.

Iya Om, jawab si wanita malu-malu.

Sebagai praktisi dunia pelendiran, Samir bisa menilai perilaku seorang wanita panggilan hanya dari bahasa tubuhnya. Samir sadar mendapatkan anak baru yang kurang pengalaman. tapi wanita tipe begini sangat memuaskan bila diajak berpetualang. tanpa disadarinya senjatanya pelan-pelan bangkit hanya dengan membayangkan apa yang akan dilakukannya tidak lama lagi bersama Miranti.

Bos, dia paket basahnya, ini paket keringnya, kata si pria pengantar sambil menunjukkan sebuah koper kecil.

Ok taruh di sofa!, suruh Samir ogah-ogahan. Sudah di depan mata mangsa yang begitu menggiurkan hingga tak ada waktu baginya memperhatikan hal lain.

Satu orang pria masuk ke dalam kamar meletakkan kopernya di sofa.

kami langsung ya Bos!.

Ini buat kalian!, samir mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya.

Wah banyak banget Bos??.

Barang yang kalian antar bagus! aku suka!!, katanya.

Makasih banyak Bos!!.

Samir mengangguk, Salam buat pak Dirjen!.

Ditutupnya pintu kamar cepat. Tak sabar Samir melangkah ke ruang tidur utama.

Kok diem aja??, tanyanya kepada si wanita muda.

Eh iya Om, toiletnya dimana ya Om?? aku mau ganti baju dulu.

Namamu siapa cantik??, tanyanya pada si wanita.

Miranti Om.

Nama yang cantik, secantik orangnya! Om panggil Mira aja boleh??.

Boleh Om.

Disini toiletnya Mira, Samir membukakan pintu kamar mandi hotel.

Wanita itu beranjak cepat untuk memasukinya.

Mira, tangan Samir menahan tubuh si wanita.

Ya Om??.

Ganti bajumu pake yang sexy ya!.

Iya Om, jawab si wanita sambil mengangguk malu-malu dan memasuki kamar mandi.

Author: 

Related Posts